Sunah-Sunah Thawaf dan Anjurannya

Ibadah haji dan umrah, sebuah impian yang bersemayam di hati setiap Muslim. Di sana, terhampar serangkaian ritual agung, sarana merajut makna mendalam. Salah satunya adalah Thawaf, ritual mengelilingi Ka’bah.

Thawaf bukan cuma gerakan fisik. Ini adalah perjalanan spiritual, lambang ketaatan total kepada Allah SWT. Agar ibadah ini sempurna, memahami dan mengamalkan sunah-sunah thawaf serta anjurannya jadi sangat krusial. Mari kita selami lebih jauh.

Pengertian Thawaf dan Kedudukannya dalam Islam

Apa Itu Thawaf?

Secara bahasa, thawaf berarti mengelilingi atau berputar. Dalam syariat Islam, thawaf adalah mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram. Tujuh putaran, dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad, tentu dengan syarat-syarat khusus.

Ritual ini adalah rukun utama haji dan umrah. Tanpa thawaf, haji atau umrah seseorang tak sah di mata syariat. Ia ibarat puncak dari perwujudan tawafnya hati seorang hamba kepada Rabb-nya.

Kedudukan Thawaf dalam Ibadah

Thawaf punya kedudukan yang amat mulia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Dan hendaklah mereka melakukan thawaf di Baitullah (rumah) yang tua itu (Ka’bah).”

(QS. Al-Hajj: 29)

Ayat ini jelas menunjukkan perintah langsung dari Allah agar kita thawaf. Ini penegas bahwa thawaf adalah ibadah yang disyariatkan, bernilai sangat tinggi di sisi-Nya. Mengikuti sunah-sunah thawaf dan anjurannya? Ini bentuk penghormatan kita pada syariat agung ini.

Pentingnya Mengikuti Sunah dalam Thawaf

Menyempurnakan Ibadah

Mengikuti sunah Rasulullah SAW, kuncinya ada pada kesempurnaan ibadah. Beliau bersabda:

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku manasik (tata cara ibadah haji) kalian.”

(HR. Muslim)

Hadits ini jadi landasan kuat: setiap detail ibadah haji dan umrah, termasuk thawaf, wajib merujuk praktik Nabi Muhammad SAW. Sunah-sunah ini bukan hanya pelengkap, tapi penentu agar thawaf kita lebih diterima.

Mendapatkan Pahala Lebih

Setiap amalan sunah, jika dikerjakan dengan ikhlas, pasti mendatangkan pahala tambahan. Dengan mengamalkan sunah-sunah thawaf, seorang hamba punya kesempatan emas meraih ganjaran berlipat ganda dari Allah SWT. Ini wujud cinta kita pada Nabi, sekaligus upaya meneladani beliau.

Para ulama dari berbagai mazhab sepakat soal keutamaan mengamalkan sunah. Imam Syafi’i menekankan: sunah adalah penyempurna fardhu. Imam Hanafi memandangnya sebagai penguat ibadah. Imam Maliki dan Imam Hambali pun sangat menganjurkan agar sunah tak ditinggalkan. Sebab, di dalamnya ada keberkahan dan pahala melimpah ruah.

Sunah-Sunah Sebelum Memulai Thawaf

Berwudhu dengan Sempurna

Thawaf memang wajib dalam keadaan suci dari hadats kecil. Tapi, berwudhu dengan sempurna? Itu sunah yang sangat dianjurkan. Ini memastikan kita siap fisik dan spiritual sebelum menghadap Ka’bah.

Pastikan semua anggota wudhu terbasuh merata. Niatkan wudhu itu untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Kebersihan sebagian dari iman, dan dalam ibadah, ia syarat mutlak.

Berniat Thawaf

Niat adalah pondasi setiap ibadah. Sebelum thawaf, hadirkan niat tulus di hati: Anda akan thawaf karena Allah SWT. Niat inilah yang membedakan ibadah dari sekadar kebiasaan.

Ucapkan niat thawaf, contohnya: “Nawaitu ath-thawafa sab’ata asywatim bil-baitil harami lillahi ta’ala.” (Aku berniat thawaf tujuh putaran di Baitullah Al-Haram karena Allah Ta’ala). Ini sunah yang disepakati keempat mazhab ulama.

Sunah-Sunah Saat Melakukan Thawaf

Idhtiba’ dan Raml

Idhtiba’

berarti membuka bahu kanan bagi laki-laki. Caranya, letakkan kain ihram di bawah ketiak kanan lalu juntai di atas bahu kiri. Ini khusus untuk thawaf pertama saat kedatangan (Thawaf Qudum atau Thawaf Umrah).

Raml adalah berjalan cepat, langkah pendek-pendek, seperti lari kecil. Dilakukan pada tiga putaran pertama thawaf. Ini juga khusus laki-laki. Rasulullah SAW melakukannya. Tujuannya? Menunjukkan kekuatan umat Islam di hadapan kaum musyrikin Makkah.

  • Tafsir Ulama:
    • Hanafi: Idhtiba’ dan Raml adalah sunah muakkadah, sangat dianjurkan bagi laki-laki pada thawaf yang diikuti sa’i, terutama Thawaf Qudum.
    • Maliki: Menganggap Raml sunah, dan Idhtiba’ sebagai mandub (dianjurkan). Tapi, ini hanya untuk thawaf pertama, bukan semua thawaf.
    • Syafi’i: Keduanya sunah yang amat ditekankan bagi laki-laki. Khususnya pada Thawaf Qudum atau Thawaf Umrah, yaitu thawaf pertama yang akan diikuti sa’i.
    • Hambali: Serupa dengan Syafi’i, keduanya sunah pada thawaf yang diikuti sa’i.

Mencium atau Menyentuh Hajar Aswad

Memulai setiap putaran thawaf dari Hajar Aswad? Wajib hukumnya. Namun, mencium Hajar Aswad (jika memungkinkan tanpa melukai orang lain) atau menyentuhnya lalu mencium tangan? Ini sunah yang amat sangat dianjurkan.

Jika tak memungkinkan, cukup beri isyarat ke Hajar Aswad dengan tangan kanan. Ucapkan “Allahu Akbar”. Ini praktik Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan dalam banyak hadits.

Berdoa di Setiap Putaran

Tak ada doa khusus yang wajib dibaca di setiap putaran thawaf. Tapi, berdoa dan berzikir? Sunah yang sangat ditekankan! Anda bebas membaca doa apa saja, asalkan maknanya baik. Doa yang paling masyhur di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad adalah:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab api neraka.”

(QS. Al-Baqarah: 201)

Ulama empat mazhab menganjurkan perbanyak doa dan zikir selama thawaf. Imam Hanafi dan Syafi’i menyoroti keutamaan membaca Al-Qur’an serta doa-doa ma’tsur (yang diajarkan Nabi). Imam Maliki dan Hambali pun menekankan kekhusyukan dalam berdoa saat thawaf. Ingat, kehadiran hati itu penting!

Menyentuh Rukun Yamani

Pada setiap putaran thawaf, disunahkan menyentuh Rukun Yamani (sudut Ka’bah sebelum Hajar Aswad) dengan tangan kanan. Tanpa menciumnya, ya. Jika tak memungkinkan? Tak perlu beri isyarat.

Nabi Muhammad SAW diriwayatkan sering menyentuh Rukun Yamani. Ini salah satu sunah-sunah thawaf. Bentuk penghormatan pada Ka’bah dan mengikuti jejak Rasulullah.

Sunah-Sunah Setelah Thawaf Selesai

Shalat Dua Rakaat di Belakang Maqam Ibrahim

Usai tujuh putaran thawaf, disunahkan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Kalau terlalu ramai dan tak memungkinkan? Boleh di mana saja di Masjidil Haram.

Rakaat pertama, setelah Al-Fatihah, baca Surah Al-Kafirun. Rakaat kedua, baca Surah Al-Ikhlas. Ini praktik Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan secara shahih.

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

“Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim tempat shalat.”

(QS. Al-Baqarah: 125)

Ayat ini, walau bukan perintah eksplisit, jadi dalil anjuran shalat di tempat ini setelah thawaf. Semua mazhab sepakat: shalat dua rakaat setelah thawaf adalah sunah muakkadah.

Minum Air Zamzam

Setelah shalat dua rakaat, disunahkan minum air Zamzam. Air Zamzam ini penuh berkah. Nabi Muhammad SAW menganjurkan meminumnya dengan niat meminta kesembuhan atau keberkahan.

Minumlah air Zamzam secukupnya, sambil menghadap Ka’bah (jika memungkinkan) dan berdoa. Ini salah satu anjuran thawaf yang berbuah manfaat dunia dan akhirat.

Hikmah di Balik Sunah-Sunah Thawaf

Menguatkan Ikatan dengan Sejarah Nabi

Setiap sunah dalam thawaf mengingatkan kita pada perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, serta Nabi Muhammad SAW. Idhtiba’ dan Raml, misalnya, adalah simbol kekuatan dan keteguhan iman di hadapan musuh.

Dengan mengikuti jejak mereka, kita tak cuma menunaikan ibadah. Lebih dari itu, kita merasakan koneksi spiritual dengan sejarah Islam yang agung. Ini bagian dari sunah-sunah thawaf dan anjurannya yang sarat makna.

Pendidikan Kesabaran dan Kerendahan Hati

Ramainya Ka’bah mengajarkan kesabaran. Dorong-dorongan atau berebut mencium Hajar Aswad? Ini bisa jadi ujian iman. Mengikuti sunah berarti mendahulukan adab dan keselamatan orang lain.

Setiap putaran thawaf, setiap untaian doa, adalah pelajaran kerendahan hati di hadapan kebesaran Allah. Kita semua sama di hadapan Ka’bah. Mengelilingi satu titik yang sama, menunjukkan persatuan umat.

Perbedaan Pendapat Ulama tentang Sunah Thawaf

Variasi dalam Penekanan

Mayoritas sunah thawaf memang disepakati. Namun, ada sedikit variasi penekanan di antara mazhab-mazhab besar Islam:

  • Mazhab Hanafi: Sangat menekankan Idhtiba’ dan Raml bagi laki-laki. Mereka menganggapnya sunah muakkadah, tak boleh ditinggalkan tanpa alasan kuat.
  • Mazhab Maliki: Cenderung lebih fleksibel pada beberapa sunah kecil. Tapi, tetap menganjurkan secara umum. Mereka fokus pada kemudahan, tak ingin memberatkan jamaah.
  • Mazhab Syafi’i: Sangat rinci menjelaskan setiap sunah, dari niat hingga doa-doa. Mereka menekankan kesempurnaan mengikuti setiap jejak Nabi.
  • Mazhab Hambali: Mirip dengan Syafi’i dalam penekanan sunah. Namun, juga menyoroti pentingnya kekhusyukan dan kehadiran hati dalam setiap amalan.

Perbedaan ini sesungguhnya adalah rahmat. Ia menunjukkan kekayaan fiqih Islam, sekaligus memberi kemudahan bagi umat. Yang terpenting? Niat tulus mengikuti sunah Nabi SAW semampu kita.

Prinsip Kemudahan dalam Syariat

Allah SWT berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

(QS. Al-Baqarah: 185)

Prinsip ini jadi landasan. Jika suatu sunah tak bisa dikerjakan karena kesulitan nyata (misalnya, terlalu padat untuk mencium Hajar Aswad), tak ada dosa meninggalkannya. Fokus utama tetap pada rukun dan wajib ibadah. Sunah? Ia pelengkap penyempurna.

Langkah Praktis Melaksanakan Sunah Thawaf

Persiapan Sebelum Thawaf

  • Pastikan Suci: Berwudhu dengan sempurna. Bagi wanita, pastikan tidak dalam keadaan haid atau nifas.
  • Kenakan Ihram dengan Benar: Bagi laki-laki, kenakan ihram dengan posisi idhtiba’ (jika thawaf qudum/umrah).
  • Niat: Hadirkan niat thawaf di hati sebelum memulai.

Saat Memulai dan Selama Thawaf

  1. Mulai di Hajar Aswad: Berdiri sejajar Hajar Aswad. Beri isyarat atau sentuh/cium jika memungkinkan, sambil mengucapkan “Allahu Akbar”.
  2. Raml (3 Putaran Pertama): Bagi laki-laki, lakukan Raml (berjalan cepat) pada tiga putaran pertama.
  3. Berdoa dan Berzikir: Perbanyak doa dan zikir di setiap putaran. Doa di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad? Jangan sampai terlewat!
  4. Menyentuh Rukun Yamani: Sentuh Rukun Yamani dengan tangan kanan jika memungkinkan.
  5. Tetap Khusyuk: Hindari bicara hal-hal duniawi yang tak penting. Fokus pada ibadah.

Setelah Selesai Thawaf

  • Shalat Dua Rakaat: Lakukan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim atau di tempat lain di Masjidil Haram.
  • Minum Air Zamzam: Minumlah air Zamzam dengan niat meraih keberkahan.
  • Thawaf Wada’: Jika akan meninggalkan Mekkah, lakukan thawaf wada’ sebagai perpisahan.

Keutamaan Mengamalkan Sunah Thawaf

Meningkatkan Kualitas Ibadah

Setiap sunah yang kita amalkan adalah bukti nyata cinta kita pada Rasulullah SAW. Ini akan membuat ibadah thawaf kita tak hanya sah, tapi juga berkualitas dan penuh makna di hadapan Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang menghidupkan sunahku, sungguh ia telah mencintaiku. Dan siapa yang mencintaiku, ia akan bersamaku di surga.”

(HR. Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan betapa besar keutamaan mengikuti sunah, termasuk sunah-sunah thawaf. Ini jalan lapang menuju surga bersama Nabi SAW.

Mendapat Syafaat Nabi SAW

Dengan meneladani Nabi dalam setiap langkah thawaf, kita berpegang pada harapan akan syafaat beliau di hari kiamat. Ini impian setiap Muslim.

Mengikuti sunah? Ini tanda ketulusan iman. Upaya maksimal seorang hamba menaati Allah dan Rasul-Nya. Ini investasi terbaik untuk kehidupan akhirat.

Kesimpulan

Sunah-sunah thawaf dan anjurannya

adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah haji dan umrah. Sungguh, tak boleh diabaikan! Ia bukan sekadar pelengkap, melainkan penyempurna yang akan mendongkrak kualitas dan pahala ibadah kita. Dari Idhtiba’ dan Raml hingga shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim, setiap sunah menyimpan hikmah dan keutamaan tersendiri.

Memahami dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits, juga pandangan ulama empat mazhab, membekali kita landasan kuat mengamalkan sunah ini. Dengan niat tulus, persiapan matang, dan pelaksanaan sistematis, insya Allah thawaf kita akan jadi ibadah yang mabrur dan diterima di sisi Allah SWT.

Semoga Allah memudahkan kita semua menunaikan haji dan umrah, serta mengamalkan setiap sunah Rasulullah SAW dengan sebaik-baiknya. Aamiin.

FAQ

Tidak, sunah-sunah thawaf tidak wajib hukumnya. Jika ditinggalkan, thawaf Anda tetap sah kok. Namun, mengamalkannya sangat dianjurkan! Tujuannya? Menyempurnakan ibadah dan meraih pahala lebih. Ini juga bukti cinta dan ketaatan kita kepada Rasulullah SAW.

Jika tak memungkinkan mencium atau menyentuh Hajar Aswad karena keramaian yang berisiko melukai diri sendiri atau orang lain, cukup beri isyarat dengan tangan kanan ke arah Hajar Aswad. Ucapkan "Allahu Akbar". Ini sudah cukup dan sesuai sunah Nabi.

Tidak, Idhtiba' (membuka bahu kanan) dan Raml (berjalan cepat) adalah sunah khusus bagi laki-laki. Wanita tidak disunahkan melakukan keduanya. Wanita disunahkan berjalan biasa dan menutup auratnya dengan sempurna selama thawaf.

Tentu saja boleh! Anda bebas membaca doa apa saja yang baik dan bermakna. Tak ada doa khusus yang wajib dibaca di setiap putaran thawaf. Namun, dianjurkan memperbanyak zikir, istighfar, dan doa-doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Ingat, kekhusyukan dan kehadiran hati lebih utama.

Disunahkan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Tapi, jika tempat itu sangat padat dan sulit dijangkau, Anda boleh shalat di mana saja di dalam Masjidil Haram. Yang terpenting, shalat dua rakaat itu tetap terlaksana setelah thawaf.

hajjumrah.id
Logo
Shopping cart