Panduan Lengkap Melempar Jumrah di Aqabah: Tata Cara & Hikmah

Ibadah haji, rukun Islam kelima, adalah sebuah perjalanan spiritual yang sungguh sarat makna. Dalam rangkaian ibadah agung ini, melempar jumrah menjadi salah satu ritual penting yang tak boleh luput. Ini bukan sekadar gerakan fisik atau tradisi turun-temurun, melainkan simbol kuat perlawanan terhadap godaan setan dan penegasan total ketaatan kita kepada Allah SWT.

Khususnya, melempar jumrah di Aqabah punya kekhususan tersendiri, baik dari segi tata cara maupun waktu pelaksanaannya. Memahami panduan ini dengan benar adalah kunci utama agar ibadah haji Anda sah dan sempurna. Mari kita kupas tuntas panduan lengkapnya di sini.

Memahami Melempar Jumrah di Aqabah: Sebuah Pengantar

Melempar jumrah adalah bagian tak terpisahkan dari manasik haji. Ritual ini dilaksanakan di Mina, tepatnya di tiga lokasi yang kita kenal sebagai Jamarat. Dari ketiga jumrah itu, Jumrah Aqabah adalah yang pertama dan paling krusial yang harus dilempar oleh jamaah haji.

Kapan pelaksanaannya? Tepat pada pagi Hari Raya Idul Adha, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah. Momen ini sekaligus menandai dimulainya tahallul awal bagi jamaah, sebuah titik terang yang sangat dinantikan setelah melewati puncak wukuf di Arafah.

Haji dan Rukunnya

Ibadah haji memiliki rukun dan wajib haji yang harus dipenuhi. Nah, melempar jumrah ini masuk kategori wajib haji. Artinya, jika sampai tertinggal, haji Anda tetap sah, namun ada konsekuensinya: wajib membayar dam (denda). Tentu saja, melaksanakannya dengan sempurna adalah puncak ketaatan.

Setiap rukun dan wajib haji menyimpan hikmah mendalam. Melempar jumrah, misalnya, mengajarkan kita tentang perjuangan gigih dan kesabaran tiada tara dalam menghadapi cobaan hidup, persis meneladani kisah heroik Nabi Ibrahim AS.

Jumrah Sebagai Simbol Perlawanan

Ritual mulia ini melambangkan penolakan tegas terhadap bujuk rayu setan yang selalu mengajak pada kedurhakaan kepada Allah. Ingatlah kisah Nabi Ibrahim AS? Saat beliau diperintah menyembelih putra kesayangannya, Ismail AS, setan datang tak henti menggoda. Dengan gagah berani, beliau melempar kerikil untuk mengusirnya. Kisah inilah yang kemudian menjadi dasar syariat melempar jumrah.

Dengan setiap lemparan, jamaah haji secara simbolis mendeklarasikan perang terbuka terhadap hawa nafsu dan bisikan jahat. Ini adalah pengingat abadi agar kita selalu teguh memilih jalan kebenaran.

Pentingnya Niat dalam Jumrah

Sama seperti ibadah lainnya dalam Islam, niat adalah fondasi utama, tiang pancang yang menopang semuanya. Saat melempar jumrah, niatkanlah semata-mata karena Allah SWT, mengikuti sunnah Rasulullah SAW, dan sebagai bentuk perlawanan nyata terhadap setan. Niat yang tulus akan menyuntikkan ruh dan menjadikan ibadah Anda jauh lebih bermakna.

Tanpa niat yang benar, tindakan fisik melempar kerikil hanyalah gerakan kosong tanpa isi. Percayalah, niat yang ikhlas itulah pembeda antara sekadar adat dan ibadah yang diterima di sisi Allah.

Dalil Syar’i Mengenai Melempar Jumrah

Legitimasi syariat melempar jumrah berakar kuat dan tak tergoyahkan dalam Al-Qur’an serta Sunnah Nabi Muhammad SAW. Ini bukan cuma praktik warisan, melainkan perintah yang jelas dan teladan yang wajib kita ikuti.

Memahami dalil-dalil ini tentu akan menguatkan keyakinan kita dalam melaksanakan setiap ritual haji, termasuk melempar jumrah di Aqabah.

Dalam Al-Qur’an

Meskipun kata “jumrah” atau “melempar jumrah” tidak disebut eksplisit, Al-Qur’an dengan tegas memerintahkan kita untuk menyempurnakan ibadah haji dan mengikuti semua manasik yang telah ditetapkan. Allah SWT berfirman:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

Terjemahan: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196)

Ayat ini menjadi penegasan mutlak tentang kewajiban melaksanakan haji dan umrah secara sempurna, termasuk semua manasiknya, persis seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam Hadist Nabi SAW

Banyak hadits shahih yang secara rinci menjelaskan tata cara melempar jumrah, termasuk jumrah Aqabah. Rasulullah SAW sendiri bersabda:

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

Terjemahan: “Ambillah dariku manasik hajimu.” (HR. Muslim)

Hadits ini adalah landasan utama, pondasi kokoh bagi seluruh tata cara haji. Rasulullah SAW sendiri tak hanya melempar jumrah, tetapi juga mengajarkan para sahabat bagaimana melakukannya. Ini menjadikan melempar jumrah sebagai sunnah muakkadah yang wajib diikuti oleh setiap muslim.

Konsensus Ulama

Seluruh ulama dari berbagai mazhab, tanpa kecuali, sepakat bahwa melempar jumrah adalah bagian tak terpisahkan dari manasik haji yang disyariatkan. Memang, mungkin ada perbedaan dalam detail teknis atau hukum bagi yang meninggalkannya, namun esensinya tetap tak berubah: wajib dilaksanakan.

Konsensus ini menunjukkan betapa kuatnya dalil dan praktik melempar jumrah yang telah lestari sepanjang sejarah Islam. Ini adalah salah satu pilar utama yang menopang ibadah haji.

Waktu dan Lokasi Melempar Jumrah Aqabah

Kesesuaian waktu dan lokasi adalah dua hal krusial dalam pelaksanaan melempar jumrah Aqabah. Melakukannya di luar ketentuan bisa mengurangi kesempurnaan ibadah, bahkan berujung pada keharusan membayar dam.

Memahami detail ini akan sangat membantu jamaah haji merencanakan pergerakan mereka di Mina dengan lebih matang dan menghindari kesalahan fatal yang bisa merugikan.

Kapan Dilaksanakan?

Melempar jumrah Aqabah dilakukan pada pagi hari tanggal 10 Dzulhijjah, sesaat setelah fajar menyingsing. Waktu paling afdal adalah setelah shalat Subuh hingga sebelum zawal (tergelincirnya matahari). Ini adalah “golden time” yang disarankan.

Meski begitu, para ulama juga menyepakati kebolehan melempar hingga matahari terbenam pada hari yang sama. Namun, menunda hingga malam tanpa uzur syar’i yang jelas hukumnya makruh, bahkan diharamkan oleh sebagian mazhab.

Dimana Lokasi Jumrah Aqabah?

Jumrah Aqabah adalah pilar pertama yang akan Anda hadapi saat bergerak dari Muzdalifah menuju Mina. Ia adalah pilar yang paling dekat dengan Mekkah jika dilihat dari arah Muzdalifah. Saat ini, area jamarat sudah direnovasi menjadi jembatan bertingkat nan megah, dirancang khusus untuk menampung jutaan jamaah.

Anda akan menemukan tiga pilar di sana: Jumrah Sughra (kecil), Jumrah Wustha (tengah), dan Jumrah Kubra (Aqabah). Ingat, pada tanggal 10 Dzulhijjah, hanya Jumrah Kubra (Aqabah) yang dilempar.

Fleksibilitas Waktu bagi Uzur

Bagi jamaah yang memiliki uzur syar’i, seperti sakit parah, lansia yang tak berdaya, atau wanita hamil yang khawatir akan keselamatan diri dan janinnya, ada kelonggaran waktu dalam melempar. Mereka bisa menunda hingga malam hari, atau bahkan mewakilkan (badal) kepada orang lain yang memenuhi syarat. Namun, ingatlah, ini adalah opsi terakhir.

Prioritaskanlah untuk melempar sendiri pada waktunya jika memungkinkan, demi kesempurnaan ibadah. Jika ada keraguan, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan pembimbing haji Anda.

Persiapan Sebelum Melempar Jumrah

Persiapan yang matang adalah separuh dari perjuangan, akan membuat proses melempar jumrah Anda lebih lancar dan khusyuk. Jangan pernah anggap remeh detail-detail kecil ini, sebab semuanya berkontribusi pada kualitas ibadah Anda.

Kesiapan fisik dan mental adalah kunci utama, mengingat area Jamarat yang seringkali penuh sesak dan tantangan yang mungkin Anda hadapi.

Mengumpulkan Kerikil

Kerikil untuk melempar jumrah biasanya dikumpulkan di Muzdalifah. Untuk jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah, Anda memerlukan 7 butir kerikil. Ukuran kerikil yang disunnahkan adalah sebesar biji kacang polong atau ujung jari kelingking; tidak terlalu besar, tidak pula terlalu kecil.

Pastikan kerikil Anda bersih dan suci. Simpanlah di tempat yang mudah dijangkau agar Anda tidak kerepotan saat tiba di lokasi melempar.

Bersuci dan Berpakaian Ihram

Jamaah wajib berada dalam keadaan suci dari hadats besar maupun kecil. Meski tidak wajib, sangat dianjurkan untuk berwudhu atau mandi sebelum melempar jumrah. Pakaian ihram harus tetap dikenakan hingga tahallul awal.

Kondisi bersih dan suci akan menambah kekhusyukan serta rasa hormat Anda terhadap ibadah agung yang sedang dijalankan.

Niat yang Kuat

Sebelum melangkah, perbarui niat Anda. Niatkan melempar jumrah semata-mata karena Allah SWT, sembari mengikuti sunnah Rasulullah SAW, dan sebagai simbol nyata menolak godaan setan. Niatkanlah dalam hati, tak perlu dilafalkan keras-keras.

Fokuskan pikiran dan hati Anda sepenuhnya pada tujuan ibadah ini. Hindari gangguan dan keramaian sebisa mungkin agar fokus Anda tak pecah.

Tata Cara Melempar Jumrah Aqabah yang Benar

Melaksanakan melempar jumrah sesuai sunnah adalah inti dari ibadah ini. Ikuti setiap langkah berikut dengan seksama untuk memastikan ibadah Anda diterima dan berpahala.

Ketahuilah, setiap detail kecil memiliki makna dan hikmah tersendiri, yang akan memperkaya pengalaman spiritual Anda di Tanah Suci.

Posisi dan Arah

Saat melempar jumrah Aqabah, disunnahkan untuk menghadap ke jumrah tersebut, dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri Anda dan Mina di sebelah kanan. Artinya, Anda menghadap ke arah kiblat, namun dengan sudut pandang tertentu agar kerikil Anda tepat mengenai pilar.

Jarak ideal untuk melempar adalah sekitar 5-10 hasta dari jumrah, agar lemparan lebih akurat dan yang terpenting, tidak membahayakan jamaah lain di sekitar Anda.

Jumlah Kerikil dan Cara Melempar

  • Siapkan 7 kerikil yang telah Anda kumpulkan sebelumnya.
  • Pegang kerikil satu per satu di antara ibu jari dan jari telunjuk Anda.
  • Angkat tangan setinggi bahu atau sedikit lebih tinggi.
  • Lemparkan satu per satu dengan kuat ke arah pilar jumrah. Pastikan kerikil mengenai pilar atau jatuh ke dalam lubang di sekitarnya.
  • Ulangi langkah ini hingga 7 kerikil habis terlempar.

Ingat, melempar tujuh kerikil secara berurutan, satu per satu, adalah sunnah. Jangan sekali-kali melempar sekaligus tujuh butir kerikil, karena lemparan Anda tidak akan dihitung sah.

Doa Saat Melempar

Setiap kali Anda melempar satu kerikil, disunnahkan untuk membaca takbir: بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ (Bismillah wallahu akbar). Setelah ketujuh kerikil terlempar, tidak ada doa khusus yang dibaca setelah jumrah Aqabah, sebab setelahnya jamaah langsung melanjutkan ke ritual tahallul awal.

Fokuskan hati dan pikiran Anda pada takbir dan niat yang tulus. Rasakanlah getaran spiritual saat Anda secara simbolis menolak godaan setan.

Tafsir Ulama Empat Mazhab tentang Melempar Jumrah

Meskipun ada konsensus dasar, terdapat beberapa perbedaan pandangan antar mazhab mengenai detail fiqih melempar jumrah. Memahami perbedaan ini akan memperluas wawasan keagamaan kita.

Perbedaan ini biasanya menyangkut hal-hal yang bersifat sunnah atau makruh, bukan pada keabsahan ibadah secara keseluruhan.

Mazhab Hanafi

Menurut mazhab Hanafi, melempar jumrah adalah wajib. Jika seseorang meninggalkan melempar jumrah, wajib hukumnya membayar dam (denda). Mereka menekankan pentingnya melempar satu per satu dan memastikan kerikil jatuh di area yang ditentukan. Jika kerikil tidak sampai, lemparan itu tidak sah dan harus diulang.

Mereka juga berpendapat bahwa niat melempar adalah syarat sah, namun niat di hati saja sudah cukup, tidak perlu dilafalkan.

Mazhab Maliki

Mazhab Maliki juga menganggap melempar jumrah sebagai wajib haji. Mereka cenderung lebih fleksibel dalam hal waktu melempar bagi yang beruzur, membolehkan hingga terbit fajar pada hari ke-11 Dzulhijjah tanpa dam bagi yang memiliki alasan kuat. Meski begitu, melempar pada waktu yang ditentukan tetap lebih utama.

Mereka juga menyepakati pentingnya tujuh kerikil dan pelemparan satu per satu. Jika jumlah kerikil kurang dari tujuh, wajib mengulang atau membayar dam.

Mazhab Syafi’i

Dalam mazhab Syafi’i, melempar jumrah juga termasuk wajib haji. Jika ditinggalkan, wajib membayar dam. Mereka sangat menekankan keharusan kerikil mengenai pilar atau jatuh di area yang telah ditentukan. Jika tidak, lemparan dianggap tidak sah.

Mazhab Syafi’i juga berpendapat bahwa kerikil yang digunakan haruslah kerikil murni, bukan pecahan batu bata atau benda lain. Ukuran kerikil juga menjadi perhatian penting, tidak boleh terlalu besar atau terlalu kecil.

Mazhab Hambali

Mazhab Hambali memiliki pandangan serupa, bahwa melempar jumrah adalah wajib haji dan jika ditinggalkan, wajib membayar dam. Mereka menekankan bahwa setiap kerikil harus dilempar secara terpisah dan dengan niat khusus untuk setiap lemparan.

Mereka juga memberikan penekanan kuat pada urutan melempar jumrah, yaitu dimulai dari Aqabah pada 10 Dzulhijjah, kemudian ketiga jumrah pada hari tasyriq.

Kesalahan Umum dan Cara Menghindarinya

Ada beberapa kesalahan yang seringkali terjadi saat melempar jumrah, terutama bagi jamaah yang baru pertama kali menunaikan haji. Mengetahui dan menghindari kesalahan-kesalahan ini sangat penting demi kesempurnaan ibadah Anda.

Perhatikan detail kecil, karena seringkali dari sanalah kesalahan fatal bermula. Jangan sampai tergelincir!

Kerikil Tidak Sampai

Salah satu kesalahan paling umum adalah kerikil tidak mengenai pilar atau tidak jatuh di area yang ditentukan. Ini sering terjadi karena lemparan yang kurang kuat, tidak fokus, atau terhalang keramaian. Jika ini terjadi, lemparan tersebut tidak dihitung sah dan wajib diulang.

Solusi: Pastikan Anda melempar dengan kekuatan yang cukup dan fokuskan pandangan pada pilar. Jika terlalu ramai, cari celah atau minta bantuan petugas untuk menuntun Anda.

Jumlah Kerikil Kurang

Kadang-kadang, jamaah lupa berapa kerikil yang sudah dilempar, atau kerikil yang dibawa memang kurang dari tujuh. Jika jumlah kerikil kurang dari tujuh, lemparan tidak sah dan wajib ditambah hingga genap tujuh. Jika sudah terlanjur pulang dan tidak bisa kembali, maka wajib membayar dam.

Solusi: Hitung kerikil dengan cermat sebelum melempar. Bawalah beberapa kerikil cadangan untuk berjaga-jaga, siapa tahu ada yang hilang atau terlempar salah.

Melempar di Luar Waktu

Melempar jumrah Aqabah di luar waktu yang ditentukan (pagi hingga terbenam matahari pada 10 Dzulhijjah) tanpa uzur syar’i dapat mengurangi kesempurnaan ibadah dan bahkan wajib dam menurut sebagian ulama. Menunda hingga hari berikutnya tanpa alasan kuat adalah kesalahan serius yang harus dihindari.

Solusi: Patuhi jadwal yang telah ditetapkan dengan seksama. Jika ada uzur, segera konsultasikan dengan pembimbing haji Anda untuk opsi terbaik, seperti badal jumrah.

Hikmah dan Filosofi di Balik Melempar Jumrah

Melempar jumrah bukan hanya sekadar ritual fisik semata, melainkan sebuah ibadah yang sarat akan makna spiritual mendalam. Memahami hikmah di baliknya akan meningkatkan kualitas kekhusyukan dan pemahaman Anda tentang ibadah agung ini.

Ini adalah pengingat abadi akan perjuangan para nabi dan komitmen teguh kita pada jalan Allah.

Mengikuti Jejak Nabi Ibrahim

Ritual ini adalah bentuk penghormatan dan peneladanan terhadap ketaatan luar biasa Nabi Ibrahim AS. Ketika beliau diperintahkan menyembelih putranya, Ismail AS, beliau tak ragu sedikit pun. Setan datang menggoda beliau di tiga tempat berbeda, dan di setiap tempat itu Nabi Ibrahim melemparinya dengan kerikil sebagai bentuk penolakan.

Kisah ini mengajarkan kita tentang ketaatan mutlak kepada perintah Allah, meskipun terasa begitu berat dan di luar nalar manusia.

Melawan Godaan Setan

Secara simbolis, setiap kerikil yang dilempar adalah pukulan telak terhadap setan dan hawa nafsu yang tak pernah lelah berusaha menjauhkan kita dari kebaikan. Ini adalah deklarasi perang terbuka terhadap kejahatan yang bersemayam dalam diri kita dan di sekitar kita.

Melempar jumrah adalah pengingat konstan bahwa perjuangan melawan setan adalah perjuangan seumur hidup, dan kita harus selalu siap siaga menghadapinya.

Pembersihan Diri

Setiap lemparan juga diyakini sebagai bentuk pembersihan dosa-dosa. Dengan niat yang tulus dan hati yang ikhlas, setiap kerikil yang dilempar dapat menghapus kesalahan-kesalahan yang telah lalu, menjadikan jamaah kembali suci bak bayi yang baru lahir.

Ini adalah kesempatan emas untuk memulai lembaran baru dengan jiwa yang bersih dan tekad yang kuat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Langkah-Langkah Sistematis Melempar Jumrah Aqabah

Agar lebih mudah dipahami dan diikuti, berikut adalah langkah-langkah sistematis yang bisa Anda praktikkan saat melempar jumrah di Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah.

Ikutilah panduan ini secara berurutan agar ibadah Anda sah dan sempurna, insya Allah.

Pagi Hari Idul Adha (10 Dzulhijjah)

  • Setelah mabit di Muzdalifah dan menunaikan shalat Subuh, segera bergeraklah menuju Mina.
  • Pastikan Anda telah membawa 7 butir kerikil yang telah dikumpulkan di Muzdalifah. Jangan sampai kurang!
  • Niatkan dalam hati Anda untuk melempar jumrah Aqabah semata-mata karena Allah SWT.

Waktu ini biasanya sangat ramai dan padat, jadi bersiaplah untuk berdesak-desakan dan jaga stamina Anda baik-baik.

Menuju Jamarat

  • Berjalanlah menuju kompleks Jamarat. Ikuti petunjuk arah yang jelas untuk mencapai Jumrah Kubra (Aqabah).
  • Jika Anda menggunakan fasilitas jembatan bertingkat, pastikan Anda berada di jalur yang benar menuju Jumrah Aqabah.
  • Jaga diri dan barang bawaan Anda. Tetaplah fokus pada tujuan ibadah, jangan sampai lengah.

Bersabar adalah kunci utama dalam perjalanan ini. Jangan terburu-buru dan tetaplah tenang di tengah keramaian.

Melaksanakan Lemparan

  • Setelah tiba di Jumrah Aqabah, posisikan diri Anda agar Ka’bah berada di kiri dan Mina di kanan.
  • Pegang satu kerikil di tangan kanan Anda.
  • Angkat tangan dan lemparkan kerikil tersebut ke arah pilar sambil membaca: بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ.
  • Pastikan kerikil Anda mengenai pilar atau jatuh tepat di area sekitarnya.
  • Ulangi langkah 3 dan 4 ini hingga 7 kerikil habis terlempar.

Setelah selesai melempar, Anda bisa segera meninggalkan area Jamarat untuk melanjutkan ritual berikutnya.

Tahallul Awal

Setelah tuntas melempar jumrah Aqabah, rangkaian ibadah selanjutnya adalah menyembelih hewan qurban (jika mampu), kemudian mencukur rambut (tahallul awal). Dengan tahallul awal ini, jamaah sudah diperbolehkan melepas pakaian ihram dan melakukan sebagian larangan ihram, kecuali berhubungan suami istri.

Ini adalah momen kelegaan dan kebahagiaan yang luar biasa setelah melewati puncak ibadah haji yang penuh tantangan.

Kesimpulan

Melempar jumrah di Aqabah adalah ritual penting dalam ibadah haji yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah. Ia melambangkan ketaatan total kepada Allah SWT dan perlawanan gigih terhadap godaan setan, meneladani kisah inspiratif Nabi Ibrahim AS. Memahami tata cara, waktu, dan lokasi yang benar sangat krusial demi kesempurnaan ibadah ini.

Dari persiapan kerikil yang tepat, posisi melempar, hingga doa yang dibaca, setiap detail kecil memiliki makna mendalam. Tafsir ulama empat mazhab memberikan panduan fiqih yang komprehensif, sementara pemahaman akan kesalahan umum membantu jamaah menghindarinya. Semoga panduan ini menjadi lentera yang menerangi jalan Anda, membantu Anda melaksanakan ibadah haji dengan sempurna dan mabrur, aamiin.

FAQ

Tidak disarankan, ya. Waktu utama melempar Jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah adalah setelah terbit matahari hingga tergelincir matahari (waktu Dzuhur). Melempar sebelum waktu itu, menurut mayoritas ulama, tidak sah atau makruh. Kecuali bagi yang punya uzur syar'i dan sangat sulit menunggu, misalnya wanita, anak-anak, atau orang sakit yang dikhawatirkan membahayakan mereka jika menunggu.

Menurut mazhab Maliki dan Syafi'i, jika kerikil tidak mengenai tiang jumrah atau tidak jatuh di area marma (lubang tempat jatuhnya kerikil), maka lemparan itu tidak sah dan wajib diulang. Pastikan kerikil benar-benar masuk ke dalam lubang atau mengenai tiang. Jika sudah terlanjur pulang dan baru sadar, maka wajib mengulang atau membayar dam jika tak bisa mengulang.

Tentu saja boleh. Tidak ada larangan syar'i bagi wanita haid untuk melaksanakan ritual melempar jumrah. Ini bukan ibadah yang mensyaratkan kesucian dari hadas besar seperti shalat atau tawaf. Mereka tetap bisa melakukan semua amalan haji kecuali tawaf dan shalat.

Boleh, asalkan ada uzur syar'i yang kuat. Misalnya, sakit parah, sangat lemah, lansia yang tak mampu berjalan jauh, atau wanita hamil yang khawatir keselamatan diri dan janinnya. Orang yang mewakili (badal) harus sudah menyelesaikan jumrahnya sendiri terlebih dahulu. Ini adalah keringanan dalam Islam untuk menjaga keselamatan jamaah dan kelancaran ibadah.

Setelah melempar Jumrah Aqabah, urutan amalan berikutnya adalah menyembelih hadyu (jika berkurban), lalu tahallul awal (mencukur atau memendekkan rambut), kemudian tawaf Ifadah di Ka'bah, dan sa'i antara Safa dan Marwah (jika belum sa'i setelah tawaf qudum). Setelah tahallul awal, jamaah sudah boleh melepas pakaian ihram dan melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang, kecuali berhubungan suami istri.

hajjumrah.id
Logo
Shopping cart