Sunah-Sunah Sa’i: Panduan Lengkap untuk Haji & Umrah

Ibadah haji dan umrah adalah dambaan setiap Muslim. Keduanya memiliki serangkaian rukun dan wajib yang harus dipenuhi. Namun, ada pula sunah-sunah yang jika diamalkan, akan menambah kesempurnaan dan pahala ibadah kita.

Salah satu rangkaian penting dalam ibadah ini adalah Sa’i. Sa’i adalah berjalan kaki atau berlari kecil antara Bukit Safa dan Marwah. Meskipun sering dianggap sebagai rukun, banyak aspek dalam Sa’i yang berstatus sunah. Memahami sunah-sunah sa’i ini akan membuat ibadah Anda lebih bermakna dan sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Pengenalan Sa’i: Rukun dan Sunah

Apa Itu Sa’i?

Sa’i berarti berjalan cepat atau berlari kecil. Dalam konteks ibadah haji dan umrah, Sa’i adalah ritual berjalan sebanyak tujuh kali pulang-pergi antara Bukit Safa dan Marwah. Ini meneladani perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS.

Perjalanan dimulai dari Safa menuju Marwah dihitung satu kali, dan dari Marwah kembali ke Safa dihitung kali kedua. Ritual ini berakhir di Bukit Marwah pada putaran ketujuh.

Kedudukan Sa’i dalam Ibadah Haji dan Umrah

Kedudukan Sa’i adalah rukun haji dan umrah menurut mayoritas ulama. Artinya, jika Sa’i tidak dilaksanakan, haji atau umrah seseorang tidak sah. Namun, ada perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai statusnya, apakah rukun atau wajib.

Meskipun Sa’i itu sendiri rukun, banyak tata cara pelaksanaannya yang masuk kategori sunah. Inilah yang akan kita bahas lebih lanjut, agar ibadah kita tidak hanya sah, tapi juga sempurna.

Pentingnya Memahami Sunah Sa’i

Memahami sunah-sunah sa’i sangat krusial. Mengamalkannya tidak hanya menambah pahala, tetapi juga menunjukkan kecintaan kita pada sunah Nabi. Ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap syiar Allah dan meneladani kesabaran Siti Hajar.

Dengan mengamalkan sunah, kita berharap ibadah kita diterima dengan sempurna di sisi Allah SWT. Ini adalah kesempatan emas untuk meraih keberkahan lebih dalam setiap langkah Sa’i.

Dalil Pensyariatan Sa’i dan Sunah-Sunahnya

Dalil dari Al-Qur’an

Pensyariatan Sa’i secara jelas disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari syiar (tanda kebesaran) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 158)

Ayat ini menegaskan bahwa Sa’i adalah bagian dari syiar Allah. Meskipun disebutkan “tidak ada dosa”, para ulama menafsirkannya sebagai penghilang keraguan bahwa Sa’i adalah ibadah, bukan perbuatan jahiliah.

Dalil dari Hadits Nabi

Praktik Sa’i dan sunah-sunahnya dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Jabir bin Abdullah RA meriwayatkan tentang haji Nabi:

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ. فَبَدَأَ بِالصَّفَا فَرَقِيَ عَلَيْهِ حَتَّى رَأَى الْبَيْتَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَوَحَّدَ اللَّهَ وَكَبَّرَهُ وَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ ثُمَّ دَعَا بَيْنَ ذَلِكَ قَالَ مِثْلَ هَذَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ نَزَلَ إِلَى الْمَرْوَةِ حَتَّى إِذَا انْصَبَّتْ قَدَمَاهُ فِي بَطْنِ الْوَادِي سَعَى حَتَّى إِذَا صَعِدَتْ سَعَى حَتَّى أَتَى الْمَرْوَةَ فَفَعَلَ عَلَى الْمَرْوَةِ كَمَا فَعَلَ عَلَى الصَّفَا

“Aku memulai dengan apa yang Allah mulai dengannya (Safa). Maka beliau memulai dari Safa, lalu naik ke atasnya hingga melihat Ka’bah, kemudian menghadap kiblat, mengesakan Allah dan membesarkan-Nya, lalu berdoa: ‘La ilaha illallah wahdahu la syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir. La ilaha illallah wahdahu, anjaza wa’dahu, wa nashara ‘abdahu, wa hazamal ahzaba wahdahu.’ Kemudian beliau berdoa di antara itu. Beliau mengulanginya tiga kali. Kemudian beliau turun menuju Marwah. Ketika kedua kakinya sampai di dasar lembah (batas hijau), beliau berlari kecil. Ketika naik (ke Marwah), beliau berjalan normal hingga sampai di Marwah. Lalu beliau melakukan di Marwah seperti yang beliau lakukan di Safa.” (HR. Muslim)

Hadits ini adalah panduan utama bagi umat Islam dalam melaksanakan Sa’i, termasuk sunah-sunah di dalamnya.

Interpretasi Ulama tentang Dalil Sa’i

Para ulama sepakat bahwa Sa’i adalah bagian tak terpisahkan dari haji dan umrah. Dalil-dalil di atas menunjukkan kewajiban atau rukunnya Sa’i. Namun, detail seperti mendaki Safa dan Marwah, berdoa di atasnya, serta berlari kecil di area tertentu, dianggap sebagai sunah-sunah sa’i yang sangat dianjurkan.

Melaksanakan sunah-sunah ini adalah wujud penghormatan terhadap syiar Allah dan meneladani Nabi. Ini adalah cara untuk mendapatkan pahala tambahan dan kesempurnaan ibadah.

Sunah-Sunah Sebelum Memulai Sa’i

Menyelesaikan Tawaf dan Salat Dua Rakaat

Sebelum memulai Sa’i, sunah adalah menyelesaikan tawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Setelah tawaf, disunahkan pula untuk melaksanakan salat sunah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim.

Salat ini adalah bentuk syukur dan pengagungan kepada Allah setelah menyelesaikan tawaf. Ini mempersiapkan jiwa dan raga untuk rangkaian ibadah selanjutnya.

Minum Air Zamzam

Setelah salat dua rakaat di Maqam Ibrahim, disunahkan untuk minum air Zamzam. Air Zamzam memiliki banyak keberkahan dan khasiat. Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ

“Air Zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya.” (HR. Ibnu Majah)

Minumlah air Zamzam dengan niat yang baik, misalnya untuk kekuatan beribadah atau kesembuhan. Ini akan memberikan energi dan keberkahan untuk Sa’i.

Mendaki Bukit Safa dan Menghadap Ka’bah

Ketika tiba di Bukit Safa, sunah adalah mendakinya hingga bisa melihat Ka’bah. Kemudian menghadap Ka’bah, mengangkat tangan, dan membaca takbir serta tahlil. Ini adalah momen untuk memanjatkan doa dengan khusyuk.

Nabi Muhammad SAW melakukan ini, seperti yang disebutkan dalam hadits Jabir. Mengikuti jejak Nabi adalah inti dari sunah ini.

Sunah-Sunah Saat Berjalan Antara Safa dan Marwah

Berjalan Kaki Sepanjang Sa’i

Selama melakukan Sa’i, sunah utama adalah berjalan kaki. Ini menunjukkan kerendahan hati dan kesungguhan dalam beribadah. Meskipun saat ini tersedia fasilitas kursi roda atau skuter listrik, berjalan kaki lebih utama jika mampu.

Rasulullah SAW dan para sahabat selalu berjalan kaki. Ini adalah bagian dari meneladani kesabaran dan ketekunan Siti Hajar.

Berlari Kecil (Ramal) di Batas Hijau

Saat berada di antara dua pilar hijau (sekarang ditandai dengan lampu hijau), disunahkan untuk berlari kecil atau ramal. Ini khusus bagi laki-laki. Bagi wanita, cukup berjalan biasa.

Tindakan ini meniru Siti Hajar yang berlari cepat di lembah untuk mencari air. Ini adalah salah satu sunah-sunah sa’i yang paling ikonik dan penuh makna.

Berdoa dan Berzikir Sepanjang Perjalanan

Sepanjang perjalanan Sa’i, sunah adalah memperbanyak doa, zikir, dan istighfar. Tidak ada doa khusus yang wajib, namun dianjurkan membaca doa-doa yang diajarkan Nabi atau doa-doa kebaikan lainnya.

Manfaatkan setiap langkah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ini adalah waktu yang mustajab untuk memohon ampunan dan hajat.

Sunah-Sunah Saat Berada di Bukit Marwah

Mendaki Bukit Marwah

Setiap kali tiba di Bukit Marwah, sunah adalah mendakinya. Sama seperti di Safa, naiklah ke Marwah hingga mencapai puncaknya. Ini adalah bagian dari syiar Allah yang harus diagungkan.

Mendaki bukit ini mengingatkan kita pada perjuangan Siti Hajar yang berulang kali naik turun mencari pertolongan.

Menghadap Ka’bah dan Berdoa

Di puncak Marwah, disunahkan untuk menghadap Ka’bah (jika memungkinkan), mengangkat tangan, dan membaca takbir, tahlil, serta doa. Lakukan seperti apa yang dilakukan di Bukit Safa.

Ini adalah momen pengulangan pengagungan Allah dan kesempatan untuk kembali memanjatkan doa-doa terbaik Anda.

Mengulang Doa dan Zikir

Nabi Muhammad SAW mengulang doa yang sama di Safa dan Marwah. Jadi, sunah adalah mengulang doa dan zikir yang telah dibaca di Safa. Ini menegaskan konsistensi dalam ibadah dan pengharapan kepada Allah.

Setiap putaran Sa’i adalah kesempatan baru untuk memohon dan berzikir dengan penuh harap.

Sunah-Sunah Setelah Menyelesaikan Sa’i

Melakukan Tahallul (Cukur/Potong Rambut)

Setelah menyelesaikan Sa’i yang ketujuh di Marwah, sunah selanjutnya adalah melakukan tahallul. Bagi laki-laki, lebih utama mencukur gundul seluruh rambut kepala (halq). Jika tidak, minimal memotong sebagian rambut (taqshir).

Bagi wanita, cukup memotong sedikit ujung rambut sepanjang ruas jari. Tahallul ini menandakan berakhirnya rangkaian ibadah umrah atau sebagian dari haji.

Berdoa Setelah Sa’i

Setelah tahallul, disunahkan untuk berdoa. Meskipun tidak ada doa khusus yang wajib, memanjatkan doa kebaikan dan keberkahan setelah menyelesaikan Sa’i adalah amalan yang sangat dianjurkan. Bersyukurlah atas kemudahan dalam melaksanakan ibadah.

Doa setelah Sa’i adalah penutup yang manis untuk rangkaian ibadah yang penuh perjuangan ini.

Istirahat dan Muhasabah

Setelah Sa’i dan tahallul, sunah adalah meluangkan waktu untuk beristirahat dan melakukan muhasabah (introspeksi diri). Renungkan kembali perjalanan ibadah yang telah dilalui, nikmat Allah, dan pelajaran dari kisah Siti Hajar.

Istirahat yang cukup penting untuk menjaga kesehatan fisik setelah aktivitas Sa’i yang menguras tenaga.

Tafsir Ulama Empat Mazhab Mengenai Sunah Sa’i

Mazhab Hanafi

Menurut Mazhab Hanafi, Sa’i adalah wajib haji dan umrah, bukan rukun. Jika ditinggalkan, wajib membayar dam (denda). Namun, mereka juga mengakui banyak sunah-sunah sa’i seperti mendaki Safa dan Marwah, menghadap Ka’bah, serta berdoa di atasnya. Berlari kecil (ramal) di antara batas hijau juga sunah bagi laki-laki.

Mereka menekankan pentingnya adab dan kekhusyukan dalam pelaksanaan Sa’i, serta memperbanyak zikir dan doa.

Mazhab Maliki

Mazhab Maliki berpendapat bahwa Sa’i adalah rukun haji dan umrah. Jika ditinggalkan, haji atau umrah tidak sah. Mereka sangat menekankan pelaksanaan sunah-sunah sa’i seperti mendaki Safa dan Marwah, menghadap Ka’bah, dan berdoa. Berlari kecil di area hijau juga dianggap sunah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi laki-laki.

Mereka juga menganjurkan untuk menjaga kesinambungan Sa’i tanpa henti yang terlalu lama, kecuali ada uzur.

Mazhab Syafi’i

Bagi Mazhab Syafi’i, Sa’i adalah rukun haji dan umrah. Meninggalkannya membatalkan ibadah. Mereka juga sangat detail dalam menjelaskan sunah-sunah sa’i. Di antaranya adalah mendaki Safa dan Marwah hingga terlihat Ka’bah, menghadap Ka’bah, membaca takbir dan tahlil, serta berdoa di setiap bukit.

Berlari kecil (ramal) di antara dua tanda hijau adalah sunah muakkadah bagi laki-laki. Mereka juga menganjurkan untuk memperbanyak doa dan zikir sepanjang Sa’i.

Mazhab Hambali

Mazhab Hambali juga menganggap Sa’i sebagai rukun haji dan umrah. Tanpanya, ibadah tidak sah. Mereka juga sangat memperhatikan sunah-sunah sa’i. Termasuk di dalamnya adalah memulai dari Safa, mendaki kedua bukit, menghadap Ka’bah, serta berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi.

Berlari kecil di batas hijau adalah sunah yang ditekankan bagi laki-laki. Mereka juga menganjurkan untuk suci dari hadas kecil selama Sa’i, meskipun tidak wajib.

Contoh Konkret Penerapan Sunah Sa’i

Persiapan Fisik dan Mental

Sebelum Sa’i, pastikan Anda cukup istirahat dan minum. Ini adalah persiapan fisik konkret. Secara mental, niatkan untuk meneladani Siti Hajar dan fokus beribadah. Hindari pikiran yang mengganggu kekhusyukan.

Membaca doa-doa sebelum Sa’i juga membantu mempersiapkan mental dan spiritual Anda.

Menjaga Adab dan Ketertiban

Saat Sa’i, jaga adab. Jangan mendorong orang lain atau berbicara keras. Fokus pada zikir dan doa Anda. Jika berlari kecil, perhatikan sekitar agar tidak menabrak jamaah lain.

Ini adalah contoh konkret menjaga ketertiban dan menghormati jamaah lain di Tanah Suci.

Fokus pada Ibadah dan Doa

Manfaatkan setiap langkah Sa’i untuk berdoa dan berzikir. Jangan sibuk dengan ponsel atau hal-hal duniawi. Angkat tangan saat di Safa dan Marwah, panjatkan doa-doa terbaik Anda.

Ingatlah bahwa ini adalah momen langka dan penuh berkah. Fokuslah sepenuhnya pada Allah.

Langkah-Langkah Sistematis Mengikuti Sunah Sa’i

Rencanakan Rute dan Waktu

Sebelum memulai, pahami rute Sa’i dari Safa ke Marwah. Perhatikan tanda-tanda batas hijau. Jika memungkinkan, pilih waktu yang tidak terlalu padat untuk kenyamanan. Ini adalah langkah sistematis yang sangat membantu.

Dengan perencanaan yang baik, Anda bisa lebih fokus pada ibadah.

Perhatikan Tanda Batas Hijau

Identifikasi tanda batas hijau di lintasan Sa’i. Bagi laki-laki, mulai berlari kecil saat memasuki area pilar hijau pertama dan berhenti saat melewati pilar hijau kedua. Lakukan ini di setiap putaran.

Ini adalah sunah yang spesifik dan mudah diamalkan jika Anda tahu lokasinya.

Manfaatkan Setiap Langkah untuk Beribadah

Setiap langkah dari Safa ke Marwah dan sebaliknya adalah kesempatan. Isi dengan zikir, tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar. Ulangi doa yang diajarkan Nabi di Safa dan Marwah.

Jangan biarkan ada langkah yang berlalu tanpa diisi dengan ibadah. Ini adalah inti dari mengamalkan sunah-sunah sa’i.

Hikmah dan Keutamaan Mengikuti Sunah Sa’i

Meningkatkan Kesempurnaan Ibadah

Mengikuti sunah-sunah sa’i adalah jalan menuju kesempurnaan ibadah. Ibadah yang lengkap dengan rukun, wajib, dan sunahnya akan lebih diterima oleh Allah SWT. Ini menunjukkan kesungguhan seorang hamba.

Kesempurnaan ini membawa pahala yang lebih besar dan keberkahan yang melimpah.

Meneladani Jejak Siti Hajar

Sa’i adalah simbol ketabahan dan tawakal Siti Hajar. Dengan mengamalkan sunah-sunahnya, kita meneladani ketekunan dan keimanan beliau. Ini adalah pelajaran berharga tentang kesabaran dalam menghadapi cobaan.

Kisah Siti Hajar mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah dan selalu bertawakal kepada Allah.

Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda

Setiap amalan sunah yang dilakukan dengan ikhlas akan mendatangkan pahala. Mengikuti sunah-sunah sa’i berarti menambah pundi-pundi pahala di sisi Allah. Ini adalah investasi akhirat yang sangat berharga.

Semoga setiap langkah Sa’i kita menjadi saksi kebaikan di hari kiamat.

Kesimpulan

Memahami dan mengamalkan sunah-sunah sa’i adalah kunci untuk menyempurnakan ibadah haji dan umrah. Meskipun Sa’i itu sendiri adalah rukun (atau wajib), detail pelaksanaannya yang disunahkan akan menambah nilai dan keberkahan ibadah kita.

Dari persiapan sebelum Sa’i, saat melaksanakannya di Safa dan Marwah, hingga setelah selesai, setiap tahapan memiliki sunah-sunah yang patut kita ikuti. Dalil dari Al-Qur’an dan Hadits, serta tafsir ulama dari empat mazhab, menegaskan pentingnya amalan ini.

Dengan menerapkan langkah-langkah sistematis dan meneladani jejak Nabi Muhammad SAW serta Siti Hajar, kita berharap ibadah kita menjadi lebih bermakna, diterima Allah SWT, dan mendatangkan pahala yang berlimpah. Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk meraih kesempurnaan ibadah.

FAQ

Mayoritas ulama dari Mazhab Maliki, Syafi'i, dan Hambali berpendapat bahwa Sa'i adalah rukun haji dan umrah, yang berarti ibadah tidak sah jika ditinggalkan. Mazhab Hanafi menganggapnya sebagai wajib, yang jika ditinggalkan harus membayar dam (denda).

Sunah yang paling ditekankan antara lain mendaki Bukit Safa dan Marwah, menghadap Ka'bah dan berdoa di atasnya, serta berlari kecil (ramal) di antara dua pilar hijau bagi laki-laki. Memperbanyak doa dan zikir sepanjang perjalanan juga sangat dianjurkan.

Tidak. Berlari kecil (ramal) di batas hijau saat Sa'i hanya disunahkan bagi laki-laki. Bagi wanita, cukup berjalan biasa dengan tenang dan tertib di sepanjang lintasan Sa'i.

Boleh, terutama bagi mereka yang memiliki uzur syar'i seperti sakit, lanjut usia, atau lemah fisik. Namun, jika mampu berjalan kaki, maka berjalan kaki lebih utama karena merupakan sunah Nabi Muhammad SAW.

Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca sepanjang Sa'i, namun ada doa yang dibaca Nabi Muhammad SAW saat di Safa dan Marwah (seperti yang disebutkan dalam hadits Jabir). Dianjurkan juga untuk memperbanyak zikir, tasbih, tahmid, tahlil, dan doa-doa kebaikan lainnya sesuai kebutuhan Anda.

Tags:

hajjumrah.id
Logo
Shopping cart